Sunday, May 5, 2013

Danny


    Matahari sudah mulai tenggelam, waktunya bagi Danny untuk membereskan sisa-sisa ritualnya. Sekaligus, mengakhiri ritual konyol yang melelahkan ini. Menjadi pendeta kuil bukanlah pekerjaan mudah, jikalau dikelilingi oleh orang-orang yang percaya akan mitos (dan kau sebenarnya tak beragama). Ia sudah bekerja dikuil tua ini selama setahun setengah, demi mencari uang untuk mengisi perutnya juga ke 12 kucing peliharaanya. Kini, sepertinya Danny harus mengakhiri pekerjaanya. Bukan hanya untuk hari ini, tapi mungkin ia akan meningalkan pekerjaanya ini dalam waktu yang lama.

"Hai, ru.." Danny mencoba menyapa,salah satu kucing miliknya.

Mengelus kepalanya, lalu memangku kucing bercorak tiga warna tersebut. Mencoba menikmati kenyamanan singkatnya. Malam, yang singkat bagi Danny Dogwood, manusia 1000 tahun (begitulah dia menyebut dirinya). Esok ia harus berkemas, menjalankan tujuan awalnya saat keluar dari dimensi asalnya. Bukan tempat kelahiranya, dia tak pernah tahu, dimana ia dulu dilahirkan. Mungkin lebih tepatnya sudah lupa dimana ia lahir. Hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun membuat memory di otaknya penuh. Terlalu banyak hal, yang ia ingat, terlalu banyak hal yang tak dapat dilupakannya. Salah satunya adalah, saat tanpa sengaja dia membunuh--- orang yang begitu penting baginya.

Hhhh---- Bodohnya.

Dunia sudah berubah sekarang, sihir tak lagi hanya melulu dengan mantera dan tongkat. Sihir sekarang dapat merobek dimensi. Membawamu ke dimensi berbeda di bumi ini. Bukan seperti pembatas sihir yang memisahkan dunia manusia dan dunia sihir dulu. Tapi tempat yang jelas sangat berbeda, dunia yang berbeda. Teknologi juga sudah bukan TV hitam putih, yang sebelum di nyalakan harus memasukkan sebuah koin, atau telepon yang jangkauannya terbatasi oleh sebuah kabel yang membarasi jangkauan gerak.
Danny terkekeh, manik kelamnya masih terpaku pada langit kelabu, yang menampakan sedikit penampakan bintang, dan bias cahaya bulan yang tertutup awan.

“Hmph…! bahkan penampakan bulan dan bintangpun sudah mereka minimalisir, ru…” ocehnya. Seingatnya dulu, ribuan bintang dapat dilihatnya dengan mata telanjang, dan cukup cahaya bulan untuk penerangan.
 
“Hei, ru—Kau tahu, aku sudah hidup cukup lama--- sangat-sangat--- lama. Mmm--- mungkin aku kenal buyutnya buyutmu, buyutnya buyutmu, buyutnya buyutmu, buyutnya buyutmu daan buyutnya buyutmu buyut.” Memberi sedikit jeda untuk melepas tawanya. Yang lalu mereda secara perlahan. Sebelah tangannya masih sibuk mengelus-elus Teru si kucing. Si kucing menggeliat manja di pangkuannya, mendengkur karena nyaman.

“Ru-- Aku berada di dunia ini hanya untuk membawa kutukan keluarga, kau tahu? Menunggu si saksi terlahir kembali” menerawang, pandangan matanya kian nanar. Seakan kata selanjutnya, yang akan dikatakannya begitu sangat menyedihkan.

“Yah--- kembali untuk membawa kutukan.”

Memejamkan matanya, menikmati sentuhan angin malam yang menembus pori-pori kulitnya. Sebaiknya dia mengakhiri pembicaraan konyol ini. Danny tidak mengharapkan tanggapan dari kucing-kucingnya. Tapi setidaknya mereka adalah pendengar setia. Besok dia harus berangkat pagi-pagi. sebelum pengunjung datang tentunya.


Hampir lupa. Ingatan pendeta tua itu juga harus di kembalikannya.

No comments:

Post a Comment