Matahari sudah mulai tenggelam, waktunya bagi Danny untuk membereskan sisa-sisa
ritualnya. Sekaligus, mengakhiri ritual konyol yang melelahkan ini. Menjadi pendeta kuil bukanlah pekerjaan mudah, jikalau dikelilingi oleh orang-orang
yang percaya akan mitos (dan kau sebenarnya tak beragama). Ia sudah bekerja
dikuil tua ini selama setahun setengah, demi mencari uang untuk mengisi
perutnya juga ke 12 kucing peliharaanya. Kini, sepertinya Danny harus
mengakhiri pekerjaanya. Bukan hanya untuk hari ini, tapi mungkin ia akan
meningalkan pekerjaanya ini dalam waktu yang lama.
"Hai, ru.." Danny mencoba menyapa,salah satu kucing miliknya.
Mengelus kepalanya, lalu memangku kucing bercorak tiga warna tersebut. Mencoba menikmati kenyamanan
singkatnya. Malam, yang singkat bagi Danny Dogwood, manusia 1000
tahun (begitulah dia menyebut dirinya). Esok ia harus berkemas, menjalankan
tujuan awalnya saat keluar dari dimensi asalnya. Bukan tempat kelahiranya, dia
tak pernah tahu, dimana ia dulu dilahirkan. Mungkin lebih tepatnya sudah lupa
dimana ia lahir. Hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun membuat memory di otaknya
penuh. Terlalu banyak hal, yang ia ingat, terlalu banyak hal yang tak dapat
dilupakannya. Salah satunya adalah, saat tanpa sengaja dia membunuh--- orang
yang begitu penting baginya.
Hhhh---- Bodohnya.
Dunia sudah berubah sekarang, sihir tak lagi hanya melulu dengan mantera
dan tongkat. Sihir sekarang dapat merobek dimensi. Membawamu ke dimensi berbeda
di bumi ini. Bukan seperti pembatas sihir yang memisahkan dunia manusia dan
dunia sihir dulu. Tapi tempat yang jelas sangat berbeda, dunia yang berbeda. Teknologi
juga sudah bukan TV hitam putih, yang sebelum di nyalakan harus memasukkan
sebuah koin, atau telepon yang jangkauannya terbatasi oleh sebuah kabel yang
membarasi jangkauan gerak.
Danny terkekeh, manik kelamnya masih terpaku pada langit kelabu, yang
menampakan sedikit penampakan bintang, dan bias cahaya bulan yang tertutup
awan.
“Hmph…! bahkan penampakan bulan dan bintangpun sudah mereka minimalisir,
ru…” ocehnya. Seingatnya dulu, ribuan bintang dapat dilihatnya dengan mata
telanjang, dan cukup cahaya bulan untuk penerangan.
“Hei, ru—Kau tahu, aku sudah hidup cukup lama--- sangat-sangat--- lama.
Mmm--- mungkin aku kenal buyutnya buyutmu, buyutnya buyutmu, buyutnya buyutmu,
buyutnya buyutmu daan buyutnya buyutmu buyut.” Memberi sedikit jeda untuk
melepas tawanya. Yang lalu mereda secara perlahan. Sebelah tangannya masih
sibuk mengelus-elus Teru si kucing. Si kucing menggeliat manja di pangkuannya,
mendengkur karena nyaman.
“Ru-- Aku berada di dunia ini hanya untuk membawa kutukan keluarga, kau
tahu? Menunggu si saksi terlahir kembali” menerawang, pandangan matanya kian
nanar. Seakan kata selanjutnya, yang akan dikatakannya begitu sangat
menyedihkan.
“Yah--- kembali untuk membawa kutukan.”
Memejamkan matanya, menikmati sentuhan angin malam yang menembus pori-pori
kulitnya. Sebaiknya dia mengakhiri pembicaraan konyol ini. Danny tidak
mengharapkan tanggapan dari kucing-kucingnya. Tapi setidaknya mereka adalah
pendengar setia. Besok dia harus berangkat pagi-pagi. sebelum pengunjung
datang tentunya.
Hampir lupa. Ingatan pendeta tua itu juga harus di kembalikannya.
No comments:
Post a Comment